Sabtu, 11 Juni 2016

diet dan angina pectoris

Sudah begitu lama saya tidak mengupdate kelanjutan cerita dari diet yang saya lakukan selama ini. Saat ini berat badan saya sudah ada diangka 69, penurunan yang tidak signifikan bukan.. karena pada awal diet saya begitu ketat mengubah pola makan dan olahraga. Satu bulan terakhir saya hanya mengalami penurunan 1 kg saja.
Saya sudah begitu nyaman dengan tidak mengkonsumsi nasi dan gula pada pola diet saya, bahkan pada bulan puasa ini saya tetap sahur dan buka tanpa nasi dan teh manis atau sejenis es - es lainnya. Sampai akhirnya saya sadari ada kondisi yang aneh terhadap tubuh saya.
Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, diet membuat menstruasi saya yg tidak lancar menjadi lancar, bulan ini saya dapat seminggu sebelum puasa, saya merasa begitu lemas dan sedikit sesak saat bernafas. Saat itu saya masih menyampingkan rasa aneh yang terjadi dalam tubuh saya. Ketika puasa pun saya tidak begitu merasa lemas, tapi ketika saya bangun dari tempat duduk saya sering merasa pandangan saya berubah menjadi kabur kemudia membaik lagi, semua keanehan dalam tubuh saya masih belum berani saya ungkapkan kepada keluarga, saya hanya menganggap mungkin karena saya darah rendah jadi kondisi tubuh saya menjadi seperti ini. Namun saya semakin merasa dada saya sesak dan panas, rasa itu datang dan pergi. Saya memutuskan untuk periksa diklinik dekat rumah, dokter yang sudah cukup mengenal keluarga dan riwayat sakit keluarga saya. Saya menceritakan segala rasa yang aneh yang selama ini saya rasa, akhirnya dokter memeriksa tekanan darah dan dada saya. Dokter menanyakan bagaimana pola hidup saya dan menanyakan apakah saya sedang melakukan diet ketat, saya jawab iya, namun saya jelaskan bahwa saya merasa saya tidak tersiksa dengan diet yang saya jalani dan bahkan saya merasa diet saya adalah diet paling bahagia. Setelah itu dokter menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saya, jantung saya sedikit kesulitan memompa darah untuk mengalirkan oksigen ke tubuh. Gejala awal ini sering disebut dengan angina pectoris, dokter pun menjelaskan ada kasus yang sama seperti yang saya alami namun orang itu tidak selamat karenantetap memaksakan diet ketat. Saya betul - betul terluka dengan kabar ini, saya bertanya apakah ini bahaya, lalu dokter bilang tidak apa - apa, setelah minum obat dan lebih baik usahakan berolahraga dan lain - lain. Saya begitu risau dan gelisah, dibayang - bayang sakit yang menakutkan.
Sesampainya dirumah saya minum obat yang telah diberikan, cepat - cepat saya cari informasi mengenai penyakit dan obat yang diresepkan, mencari informasi membuat saya semakin panik. Ketika halaman - halaman yang credible dan bisa dipertanggunjawabkan bahwa sakit itu sering disebut juga dengan angin duduk, angin duduk sendiri mempunyai banyak jenis dan tingkatan. Tubuh saya semakin rapuh dimakan rasa takut, rasanya sesak ini menjadi lebih sesak karena psikis saya begitu down, cepat - cepat saya minta orangtua saya mengantarkan saya ke rumah sakit, saya tidak mau terlambat, rasanya hati saya sudah menangis sekencang - kencangnya. Badan saya gemetar seperti tidak bisa digerakkan, yang ada dikepala saya saat itu hanya hidup dan mati, begitu sakit dan menyeramkan. Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu lama bagi saya, ibu saya menggenggam tangan saya erat - erat, yang terbelesit dalam pikiran saya adalah saya harus kuat dan tetap hidup. Sesampainya di IGD saya langsung dibaringkan dan dipasang oksigen, saya merasa sangat lemah, dokter memasakan alat rekam jantung dan memberikan penenangan psikis terhadap saya, saya begitu panik. Saya baik - baik saja kan dok.. saya begitu takut dok.. itu saja yang saya katakan selama ada diruangan. Setelah hasil rekam jantung keluar dokter bilang jantung saya normal, hanya saja saya mengalami ketakutan psikis yang membuat seluruh tubuh saya terasa sakit, dokter menyarankan saya tetap meminum obat dari klinik dan minum obat penenang.

Sekarang saya tau, ketika iman kita belum siap berhadapan dengan sakit adalah yang paling menyakitkan, saya mencoba berjanji pada diri sendiri, saya akan memperbaiki diri. Karena bekal yang saya bawa belum cukup banyak.

Saya berdoa semoga saya bisa lekas sehat dan beraktifitas seperti biasa lagi. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus saya lakukan.

Dan yang terakhir, ternyata selama ini yang saya anggap adalah pola hidup sehat belum bisa diterima oleh tubuh saya. Untuk semua yang sedang berdiet lebih baik konsultasikan kepada dokter dahulu, suoaya dapat memilih pola diet yang cocok untuk tubuh masing - masing.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

link within

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...