dalam film ini puisi menjadi daya tarik, perempuan yang menonton film ini begitu mellow dengan puisi batas karya Aan Mansur. tapi coba lihat dikehidupan kita saat ini puisi sudah begitu jauh, bahkan untuk menginterpretasikan puisi sangat sulit bagi orang awam, contohnya saya sendiri. sebagian lainnya juga menganggap puisi sebagai gombalan jaman dulu, yang banyak disebut bait - bait sok romantis. padahal, jika kita kembali ke masa lalu bagaimana dalam puisi Sapardi, Marah Roesli, Armijn Pane dan lain - lainnya. puisi mereka begitu dalam, dramatis. gaya bahasa yang penuh metafora yang mampu menciptakan perubahan. saya jadi ingat dulu sempat melihat video betapa besarnya antusias mahasiswa mendengarkan Rendra membacakan puisinya, sedangkan saat ini kelompok - kelompok pecinta puisi kalah dengan genk mainstream pecinta dagelan dan media social addict.
saya salah satu orang yang beruntung, benerapa kali saya dapat hadiah puisi dari pasangan saya, ketika saya membacanya saya merasa memiliki cerita yang lebih asik dari pasangan kebanyakan. saya membaca berkali - kali ketika saya mau tidur. mencoba menafsirkan bait - bait metafora, berpikir bahkan juga jadi berprasangka yang makin menjadi - jadi. walaupun pada akhirmya kalah dengan senyum - semyum sendiri.
saya berkesimpulan bahwa hidup dizaman yang serba cepat seperti saat ini membuat cinta begitu instant, segala hal diucap dengan frontal. segalanya menjadi hambar bukan. bahkan semuanya seperti bisa dilakukan dalam genggaman. sekali - kali ada baiknya mencoba kembali pada pola yang lama.. ketika dirasa, menjadi manusia lama lebih menyenangkan, sesaat kita akan merasa hal - hal kecil akan jadi lebih berarti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar